Tingkatkan Surveilans Japanese Encephalitis (JE), Monitoring Pelaksanaan Sistem Surveilans JE di RSUD di DIY


Japanese Emcephalitis (JE) merupakan penyebab utama radang pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus di Asia. Angka kematian yang disebabkan oleh virus ini cukup tinggi, dan dapat menyebabkan kecacatan terutama pada anak - anak. Japanese Encephalitis dapat dikendalikan dengan vaksinasi. Di Indonesia, vaksinasi JE sudah diintroduksi di Provinsi Bali dan Kalimantan Barat, dan akan segera dikampanyekan di DIY dan Jawa Tengah. Sejak BBTKLPP Yogyakarta mengkoordinasikan kegiatan S3JE di DIY pada tahun 2018, di wilayah ini belum ada kasus JE terkonfirmasi laboratorium.

Data tahun 2023 menunjukkan bahwa dari 13 rumah sakit sentinel, baru 5 rumah sakit yang sudah mengirimkan spesimen suspek JE untuk konfirmasi laboratorium ke BBTKLPP Yogyakarta. Untuk itu, BBTKLPP Yogyakarta meningkatkan pelaksanaan S3JE di DIY dengan melakukan monitoring kegiatan di enam rumah sakit daerah yang merupakan lokasi sentinel pada kegiatan S3JE. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 8 September 2023 di RSUD Panembahan Senopati Bantul, dan dari tanggal 11 - 14 September 2023 di RSUD Kota Yogyakarta, RSUD Prambanan, RSUD Wates, RSUD Nyi Ageng Serang, dan RSUD Wonosari. Tim S3JE yang terdiri atas Koordinator Substansi SE, dr. Y. Gita Chandra, M.S., didampingi oleh dr. Dwi Amalia, M.P.H. dan dr. Ratna Wijayanti, M.P.H. mengunjungi lokasi - lokasi tersebut untuk berdiskusi dengan manajemen rumah sakit dan tim S3JE RS yang terdiri atas dokter spesialis anak, dokter penanggungjawab laboratorium, petugas rekam medis, dan penaggungjawab PICU/UGD. Diskusi juga dihadiri oleh petugas Dinas Kesehatan DIY dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota terkait. Dari diskusi tersebut, diketahui bahwa rumah sakit sentinel telah menjalankan kegiatan S3JE, namun ditemukan beberapa kendala di rumah sakit, antara lain dokter penanggungjawab tim menempuh pendidikan lanjutan namun tidak mendelegasikan wewenang ke dokter spesialis anak lainnya, terjadi pergantian petugas dan petugas yang baru tidak tahu mengenai kegiatan S3JE, serta tidak semua dokter anak di rumah sakit terlibat aktif dalam skrining kasus. Selain itu, beberapa rumah sakit tidak memiliki Pediatric ICU, sehingga kasus encephalitis dirujuk ke rumah sakit rujukan sebelum dapat diambil spesimennya.

Pada diskusi ini, disepakati bahwa komunikasi antara rumah sakit sentinel dan dinas kesehatan perlu ditingkatkan, agar semua kasus ensefalitis akut yang teridentifikasi di rumah sakit dapat ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi oleh dinas kesehatan. Diharapkan dengan dilaksanakannya monitoring pelaksanaan S3JE ini, rumah sakit yang terlibat akan lebih waspada dan siap melakukan skrining terhadap kasus ensefalitis.