Pelatihan dalam rangka Penguatan Kewaspadaan Dini dan Respon KLB Leptospirosis di Kabupaten Boyolali


Pada hari Kamis, tanggal 19 April 2018 BBTKLPP Yogyakarta bekerjasama dengan B2P2VRP Salatiga dan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali menyelenggarakan Pelatihan dalam rangka Penguatan Kewaspadaan Dini dan Respon KLB Leptospirosis di Kabupaten Boyolali. pelatihan ini diselenggarakan di Hotel Grand Wahid, Kota Salatiga. Peserta pelatihan terdiri dari tenaga medis/kesehatan dari Puskesmas, RSUD, dan RS Swasta dari wilayah Kabupaten Boyolali dan sekitarnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan BBTKLPP Yogyakarta, dengan jumlah total peserta 36 orang. Pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Dr. Ratri S Survivalina, MPA.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kasus leptospirosis di Kabupaten Boyolali sebenarnya tidak terlalu tinggi dibanding tahun sebelumnya, namun karena pada awal tahun Case Fatality Ratenya tinggi maka dilakukan upaya untuk mencegah fatalitas kasus. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga medis di fasilitas kesehatan tingat satu untuk mampu mendiagnosis penyakit Leptospirosis secara dini dan melakukan tata laksana leptospirosis untuk mencegah fatalitas kasus.

Agenda selanjutnya adalah presentasi panel oleh 3 orang narasumber, yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kab. Boyolali dengan materi Kejadian Leptospirosis di Kab. Boyolali, Prof. dr. M. Husein Gasem SpPD, KPTI, PhD dengan materi Paparan Leptospirosis pada Manusia, dan Dr. Lisa Novi, SpPD dengan materi Tampilan Klinis Leptospirosis. Dari diskusi, disimpulkan bahwa: 1) Leptospirosis harus dimasukkan sebagai salah satu Differential Diagnosis (DD) bagi demam akut, 2) pada kasus dengan DD Leptospirosis dan DHF maka diutamakan untuk pengelolaan leptospirosis, dan 3) untuk diagnosis dini leptospirosis disarankan untuk menguatkan diagnosis klinis.