Diseminasi Hasil Survei Bionomik Vektor Filariasis Dan Evaluasi Pasca Popm Kecacingan Terpadu Di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018


Pada tanggal 26 November 2018, dilaksanakan pertemuan Diseminasi Hasil Survei Bionomik Vektor Filariasis serta Evaluasi Pasca POPM dan Kecacingan Terpadu di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah tahun 2018. Pertemuan dilaksanakan di Aula Rumah Makan Wono Boga, Kabupaten Wonosobo. Pertemuan dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo beserta staf, seluruh puskesmas di Kabupaten Wonosobo, perwakilan dari Kecamatan Kepil,  Desa Kaliwuluh, Ketua Penggerak PKK, organisasi BPD, tokoh agama Kecamatan Kepil, programmer filariasis dari Puskesmas dan kader kesehatan di wilayah terkait.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab Wonosobo, Junaedi, M. Kes, dilanjutkan arahan tentang pentingnya pencegahan penyakit Filariasis oleh Kepala BBTKLPP Yogyakarta, Dr. dr. Irene, M.K.M. Setelah itu, koordinator tim kegiatan Survei Bionomik Vektor Filariasis BBTKLPP Yogyakarta, Yohanes Didik Setiawan, S.Si, M.Sc., memaparkan hasil Survei Bionomik Vektor Filariasis di Kabupaten Wonosobo yang dilakukan di Desa Kaliwuluh. Adapun pemaparan Hasil Evaluasi Pasca POPM dan Kecacingan Terpadu disampaikan oleh koordinator tim, yaitu Heldhi Broto Kristiawan, S.K.M., M.Eng. Dari hasil survei bionomik vektor filariasis tersebut masih ditemukan adanya beberapa jenis nyamuk yang berpotensi sebagai vektor Filariasis, namun dari hasil pembedahannya tidak mengandung larva L3 cacing Filaria. Untuk evaluasi pasca POPM dan Kecacingan Terpadu disampaikan hasil lebih dari 91% penduduk sasaran di Kabupaten Wonosobo telah meminum obat pencegahan filariasis sesuai program dari pemerintah. Tim BBTKLPP Yogyakarta menyampaikan pula beberapa cara melakukan pencegahan gigitan nyamuk kepada masyarakat.

Setelah paparan materi, dilanjutkan dengan diskusi. Hasil survei ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan operasional dan strategi pengendalian larva dan nyamuk vektor Filariasis secara terpadu serta upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mau meminum obat anti filariasis.