Survei Pre TAS Filariasis di Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019


Filariasis merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena berjangkit di sebagian besar wilayah Indonesia dan dapat menimbulkan kecacatan seumur hidup. Indonesia telah sepakat untuk melaksanakan eliminasi Filariasis tahun 2020 sesuai ketetapan WHO tentang Kesepakatan Global Eliminasi Filariasis tahun 2020 (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the Year 2020). Program eliminasi dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu : pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis kepada seluruh penduduk di kabupaten endemis filariasis, kedua dengan tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecacatan.

Surveilans Kesehatan dilaksanakan berbasis indikator dan berbasis kejadian dengan melakukan analisis terhadap data yang dikumpulkan melalui Penemuan Penderita, survei data dasar prevalensi mikrofilaria, survei evaluasi prevalensi mikrofilaria dan survei evaluasi penularan Filariasis. ?

Penemuan Penderita dilakukan secara aktif dan pasif, secara aktif dilaksanakan melalui survei darah jari dan survei kasus klinis dan secara pasif melalui penderita yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dan laporan masyarakat.
Survei data dasar prevalensi mikrofilaria dilakukan untuk menentukan wilayah endemis Filariasis. Desa/kelurahan yang ditemukan penderita Filariasis kronis terbanyak akan dilakukan Survei Darah Jari untuk mengukur tingginya angka mikrofilaria rate sebagai dasar penentuan status endemisitas Filariasis daerah tersebut

Wilayah endemis Filariasis meliputi satuan kabupaten/kota yang ditentukan berdasarkan hasil survei data dasar prevalensi mikrofilaria menunjukkan angka mikrofilaria (microfilaria rate) lebih dari dan/atau sama dengan 1% (satu persen). ?Apabila berdasarkan hasil survei evaluasi penularan pada daerah kabupaten/kota menunjukkan angka mikrofilaria (microfilaria rate) kurang dari 1% (satu persen), pemberian obat Filariasis hanya dilakukan terhadap Penderita.

Pada semua penduduk di wilayah endemis Filariasis wajib dilakukan POPM Filariasis, meliputi penduduk sasaran usia 2 tahun sampai dengan usia 70 tahun, tidak dilakukan atau ditunda pemberiannya terhadap ibu hamil, penderita gangguan fungsi ginjal, penderita gangguan fungsi hati, penderita epilepsi, penderita penyakit jantung dan pembuluh darah, penduduk yang sedang sakit berat, penderita Filariasis klinis kronis sedang mengalami serangan akut dan/atau anak dengan marasmus atau kwasiorkor. Satuan lokasi pelaksanaan eliminasi Filariasis (implementation unit) adalah Kabupaten/Kota. POPM Filarasis dilaksanakan sekali setiap tahun paling sedikit selama lima tahun berturut-turut. Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) harus dilakukan secara maksimal. Kalau kurang dari 85 % tidak efektif dan akan menjadi sumber penularan.
Survei evaluasi prevalensi mikrofilaria dilakukan untuk menilai keberhasilan penurunan prevalensi mikrofilaria sesudah kegiatan POPM Filariasis.

Setiap kabupaten/kota yang sudah melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) Filariasis berkewajiban untuk melaksanakan Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria setelah pelaksanaan kegiatan POPM Filariasis tahun ketiga dan kelima.
Survei ini tidak dilakukan diseluruh wilayah desa/kelurahan, tetapi hanya dilakukan pada beberapa desa terpilih, yaitu ditetapkan di satu Desa Sentinel dan satu Desa Spot (Spot Check). ?

Survei evaluasi penularan Filariasis atau Transmission Assessment Survey (TAS) dilakukan untuk mengetahui masih ada atau tidaknya penularan Filariasis sesudah paling sedikit 5 (lima) tahun kegiatan POPM Filariasis dilakukan.  Pelaksanaan POPM Filariasis wajib diteruskan selama 2 (dua) tahun apabila berdasarkan hasil survei evaluasi penularan Filariasis menunjukkan masih terjadi penularan dan/atau cakupan pengobatan tidak memenuhi persyaratan minimal 65 % dari penduduk sasaran.

Pada dasarnya, setelah POPM filarisis dilaksanakan setiap tahun selama 5 tahun berturut-turut, maka diharapkan sudah tidak terjadi penularan Filariasis, sehingga pada anak-anak berusia 6-7 tahun tidak ditemukan adanya cacing dewasa dalam darahnya.
Pelaksanaan POPM Filariasis dihentikan apabila berdasarkan hasil survei evaluasi penularan Filariasis menunjukkan tidak terjadi penularan. Setelah penghentian POPM Filariasis telah berlangsung selama 2 (dua) tahun, pada wilayah tersebut dilakukan survei ulang evaluasi penularan Filariasis, mika hasil survei ulang evaluasi penularan Filariasis menunjukkan tidak terjadi penularan, POPM Filariasis tetap dihentikan dan dilakukan survei ulang penularan Filariasis kembali setelah 2 (dua) tahun.

Sesuai dengan jenis cacing Filariasisnya, metode diagnosis untuk menentukan ada tidaknya cacing filaria di dalam darah dibagi 2 cara yaitu Immunochromatographic Test (ICT)/Rapid Test untuk Bancrofti dan Rapid Test untuk Brugia. Untuk daerah dengan infekasi campuran W. bancrofti dan Brugia spp, dilakukan untuk masing-masing pemeriksaan ICT dan Rapid Test Brugia.  Di Provinsi Jawa Tengah terdapat 9 kabupaten/kota yang endemis filariasis yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Brebes, Wonosobo, Semarang, Grobogan, Blora, Pati dan Demak. Pada tahun 2015 dicanangkan Bulan eliminasi kaki gajah (Belkaga) secara nasional dan setiap bulan oktober semua kabupaten endemis secara serentak melakukan kegiatan POPM dengan tujuan utama tahun 2020 Indonesia Bebas filariasis limfatik.  

Pada tahun 2018, BBTKL PP Yogyakarta me lakukan Survei Cakupan Pengobatan di Kabupaten Grobogan (81%), Kabupaten Wonosobo (83%) dan Kabupaten Semarang (84%), walaupun di beberapa desa masih terdapat titik-titik dengan cakupan memnum obat kecil dari 65%. Disamping itu juga dilakukan survei evaluasi prevalensi mikrofilaria di Kabupaten Blora, Kabupaten Pati dan Kabupaten Pekalongan dengan hasil mf Rate 0% baik di desa spot maupun sentinel. Pada tahun 2018, Kota Pekalongan telah menyelesaikan tahun ke 2 dari POMP setelah gaga pada tahun ke 5 POMP Filariasis, untuk itu dilakukan Survei evaluasi akhir Periode (Pre TAS). Survei Evaluasi Prevalensi Mikrofilaria ini dilaksanakan oleh tim BBTKL PP Yogyakarta yang langsung dipimpin oleh Kepala BBTKL PP Yogyakarta DR. dr. Irene, MKM bersama Kepala Bidang Epidemiologi Sayekti Udi Utama, SKM, M.Kes, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas dibantu oleh masyarakat setempat. Pelaksanaan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Jawa Tengah

Populasi survei, baik pada Desa Sentinel maupun Desa Spot, adalah penduduk berusia >5 tahun. Penduduk di Desa Sentinel yang positif mikrofilaria pada survei- survei sebelumnya, harus dimasukkan dalam sampel survei ini. Jumlah sampel 300 spesimen di setiap lokasi survei (satu Desa), dengan cara pengambilan dan penentuan sampel sama seperti pada Survei Darah Jari. Distribusi sampel survei menurut umur sedapat mungkin representasi distribusi populasi yang setiap daerah bisa berbeda. Apabila jumlah populasi yang berusia >5 tahun di Desa Lokasi Survei tidak mencukupi, maka sampel tambahan dapat diambil dari desa lain yang bersebelahan dengan topografi yang kurang lebih sama.
Cara menemukan sampel adalah dengan mengumpulkan penduduk sasaran survei yang tinggal di sekitar kasus kronis di Desa Sentinel atau dimulai dari tempat lain yang paling dicurigai sebagai tempat dengan risiko penularan Filariasis paling tinggi (rawa, dsb). Tehnik Pengambilan Spesimen, Pewarnaan dan Pemeriksaan Sediaan  sama dengan Survei Darah Jari.

Pelaksanaan survei evaluasi Pre TAS untuk mengetahui gambaran Mf rate ini dilaksanakan mulai tanggal 29 April hingga 4 Mei 2019. Survei dilaksanakan di dua desa, yaitu Kelurahan Sapuro Kebulen, Kecamatan Pekalongan Barat sebagai Desa Spot dan Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, sebagai Desa Sentinel. Tim pengumpulan spesimen darah jari yang terdiri atas unsur: petugas Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puskesmas Medono, Puskesmas Jenggot, Kader Kelurahan Sapuro Kebulen, Kader Kelurahan Jenggot, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dan BBTKLPP Yogyakarta. Setiap tahapan pellaksanaan survey di kedua lokasi terlebih dahulu diadakan kegiatan penyiapan masyarakat berupa sosialisasi terkait dengan tujuan dan tata cara pelaksanaan kegiatan pengambilan specimen sediaan darah jari (SDJ) yang dilaksanakan pada malam hari (pukul 21.00 WIB s/d pukul 02.00 WIB) sehingga diharapkan adanya kepedulian dan meningkatnya partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Hasil sosialisasi ini cukup efektif karena dari hasil pengumpulan specimen Sediaan Darah Jari yang dilaksanakan dapat terjaring sebanyak 332 orang responden di Kelurahan Medono berusia antara 9 – 74 tahun, dengan proporsi 51% adalah laki-laki dan 49% perempuan, sementara untuk  Kelurahan Jenggot terjaring sebanyak 315 orang responden berusia antara 6 – 79 tahun dengan proporsi 49% laki-laki dan 51% perempuan. Spesimen darah jari yang terkumpul akan diproses lebih lanjut di instalasi laboratorium parasitologi BBTKLPP Yogyakarta untuk mengidentifikasi keberadaan mikrofilaria.