Pra Assessment Pes Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018


Sejarah perkembangan penyakit Pes atau juga dikenal dengan nama Pasteurellosis/Yersiniosis/Plague telah menetapkan Kecamatan Selo dan Cepogo di Kabupaten Boyolali sebagai daerah ”Fokus dan Terancam” Pes sejak tahun 1968 hingga 2017 ini, disamping beberapa daerah lain seperti Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta dan Kecamatan Nongkojajar, Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Label sebagai daerah fokus dan terancam Pes ini selain berdampak pada sektor kesehatan juga pada sektor pariwisata yang dapat mendatangkan pendapatan daerah. Pemerintah kesulitan untuk mengembangkan obyek-obyek wisata di wilayahnya, tidak dapat beternak hewan-hewan peliharaan yang dapat berpotensi tertular Pes seperti kelinci, bajing, kucing dan lain-lain).

Kegiatan-kegiatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian agar tidak timbulnya lagi wabah Pes seperti yang pernah terjadi, terus dilakukan secara rutin melalui pengamatan dan wawancara terhadap masyarakat untuk menapis bila ada yang mengalami gejala-gejala diduga Pes, dan pemasangan perangkap tikus (trapping) setiap bulan setiap tahun untuk daerah fokus dan minimal 4 (empat) kali setiap tahun untuk daerah terancam Pes.Trapping selain dimaksudkan untuk mengendalikan berkembangnya populasi tikus/rodent sebagai reservoir/sumber penular, juga melakukan pemeriksaan secara laboratorium serum darah tikus untuk mengetahui apakah tikus tersebut terinfeksi bakteri pes, selain itu juga melihat kepadatan pinjal yang merupakan vektor penular Pes yang hidup pada tubuh tikus.

Pes masih merupakan masalah kesehatan dan termasuk penyakit yang terdaftar dalam penyakit karantina Internasional, namun Pes termasuk penyakit yang terabaikan, karenanya penyakit ini jarang menjadi prioritas program nasional karena hanya tersebar pada beberapa daerah saja. Kurangnya referensi tentang Pes ini menyebabkan surveilans yang dilakukan sudah cukup memakan waktu lama tetapi tidak tahu akhir dari program surveilans Pes ini akan seperti apa, bagaimana dan kewenangan siapa untuk mencabut label ”fokus dan terancam” Pes tersebut, dan lain-lain.

Pes berpotensi menimbulkan KLB/wabah, oleh karena itu beberapa tahun terakhir mulai diperhatikan, diprioritaskan oleh Kementerian Kesehatan R.I melalui Subdit Zoonosis, Dirjen P2P. Beberapa upaya dipersiapkan untuk mengevaluasi/menilai kegiatan surveilans yang sudah dilakukan secara rutin selama puluhan tahun ini, yaitu: surveilans pengendalian penyakit Pes atau surveilans rodent dan pinjal Pes.



Surveilans Rodent dan Pinjal Pes Rutin di Boyolali

Kegiatan rutin yang selalu dilakukan oleh Puskesmas Selo dan Cepogo dalam mencegah terjadinya kembali wabah Pes adalah melakukan trapping dan wawancara di masyarakat tentang faktor risiko Kegiatan ini terus dilakukan sebagai akibat label yang tersemat sebagai daerah fokus dan terancam Pes sejak belasan bahkan beberapa puluh tahun yang lalu.

Pendanaan kegiatan ini didukung oleh beberapa sumber dana yang saling melengkapi agar SOP program surveilans Pes ini tetap berjalan sesuai dengan petujuk teknis pengendalian Pes yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan R.I dan WHO, yaitu berasal dari dukungan BBTKLPP Yogyakarta, DInas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, DInas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan BOK Puskesmas Selo dan Cepogo.

Pada kesempatan surveilans rodent dan pinjal Pes BBTKLPP Yogyakarta Bulan Februari 2018, Kepala BBTKLPP Yogyakarta Ibu DR. dr. Irene, MKM turut mendampingi hingga ke Dusun Sepandan Kulon. Sebelum menuju ke lokasi trapping saat itu,Ibu Irene mengunjungi dan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ibu dr. ratri S Survivalina, MPA guna menyampaikan juga amanat Kepala Dirjen P2P yang baru, yaitu dr. Anung Sugihantono, M.Kes mengenai upaya segera membebaskan status Kabupaten Boyolali (Kecamatan Selo dan Cepogo) menjadi daerah bebas Pes, mengingat status sebagai daerah fokus Pes dan terancam Pes sudah lama disandang oleh Kabupaten Boyolali, bahkan saat beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pun label/status tersebut sudah dimiliki oleh Kabupaten Boyolali.

Sebagai Kepala BBTKLPP Yogyakarta yang baru, Ibu Irene juga mengajak Ibu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali yang baru juga, untuk lebih serius dan fokus mendampingi program pengendalian penyakit Pes ini sehingga amanat Bapak Dirjen P2P Kemenkes R.I tersebut dapat segera terwujud dan masyarakat, khususnya Pemda Kabupaten Boyolali tidak terganggu lagi dengan status Pes tersebut sehingga dapat mengembangkan seluruh potensinya dalam pembangunan Kabupaten Boyolali secara optimal. Langkah pertama yang dilakukan Kepala BBTKLPP Yogyakarta dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali merespon amanat Bapak dirjen P2P tersebut adalah dengan meninjau ke lokasi sekaligus mendampingi langsung pemasangan perangkap tikus (trapping) ke Dusun Sepandan Kulon, Desa Selo, Kecamatan Selo.

Dalam pendampingan tersebut Ibu Kepala BBTKLPP Yogyakarta dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali banyak sekali mendapatkan gambaran, pengalaman dan ilmu dari para kader pemasang perangkap tikus (trapper), petugas puskesmas, dan Tim Program Pengendalian Pes di Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali tentang upaya dan kesiapan mereka mempersiapkan dan menghadapi pra assessment Pes dengan kendala- kendala yang ada dan potensi-potensi yang mereka miliki, dengan dukungan, bimbingan dan arahan dari BBTKLPP Yogyakarta selama ini.

Dalam arahannya, DR. dr. Irene, MKM banyak menekankan hal-hal penting terkait persiapan penilaian/pra assessment Pes tersebut seperti data kegiatan surve rodent dan pinjal yang sudah ada, supaya di cek ulang, bila ada yang tidak tepat agar diperbaiki atau bila masih ada yang kosong dapat segera dilengkapi; data sebaiknya tidak hanya data mentah tetapi sudah ada hasil pengolahannya. misalkan dalam bentuk grafik yang menunjukkan trend/pola 10 tahun.

Arahan lain yang beliau sampaikan adalah karena kegiatan surveilans pengendalian pes ini adalah berbasis masyarakat, sehingga sistem yang sudah dibangun di masyarakat harus tetap dilakukan (seperti kedatangan petugas Puskesmas Selo secara rutin di masyarakat tentang tikus mati/ status riwayat masyarakat mengalami gejala-gejala khas penyakit pes) dan media yang dilakukan seperti melalui pertemuan/pengajian rutin wilayah atau puskesmas keliling, dan lain-lain harus tetap dan rutin dilaksanakan agar masyarakat juga selalu dapat memahami tentang berbagai program yang dilakukan dimasyarakat tentang pes ini. “BBTKLPP Yogyakarta akan mengawal dan mendukung program pembebasan status Pes di Kabupaten Boyolali dan Sleman secara penuh” demikian DR. dr. Irene, MKM menegaskan.